Peringati Hari Penyandang Disabilitas Internasional, 10 Difabel Mendaki Gunung Sesean

Sempat Tergelincir, Butuh Tiga Jam Sampai Puncak

Selasa, 05 Desember 2017 | 11:39
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
MENEMBUS BATAS: 10 difabel sukses mendaki puncak Gunung Sesean, Sulsel, Minggu (3/12).

Keterbatasan fisik bukan penghalang. Buktinya, sebanyak 10 difabel sukses menapaki puncak tertinggi Gunung Sesean, Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang memiliki ketinggian 2.100 mdpl (meter di atas permukaan laut).

IMAM RAHMANTO, Enrekang

INDOPOS.CO.ID - Mimpi Adil akhirnya bisa terwujud. Ia tahu rasanya dibelai semilir lembut dari puncak gunung. Meski hanya berada di ketinggian 2.100 mdpl, pengalaman pertama tetap menjadi hal berharga baginya.

Lelaki asal Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (Sulsel) itu tak sendiri. Ada sembilan atlet difabel lainnya yang berjuang menapaki puncak tertinggi itu. Dua difabel netra, enam difabel daksa kinetik, dan satu difabel daksa grahita (down syndrome). Sebagian besar kawan-kawan Adil yang juga warga asli Bumi Massenrempulu.

Sebenarnya, keinginan muncak Adil sudah menggumpal begitu lama. Setahun yang lalu, ia sempat mendengarkan diskusi publik pendakian atlet difabel menembus belantara Pegunungan Latimojong. Ia pun mengencangkan tekad ingin menjajal hal serupa. "Saya hadir dan mendengarkan langsung bagaimana pengalaman mereka. Mereka saja yang punya keterbatasan, sama seperti saya, bisa naik gunung, kenapa saya tidak? Saya tekankan itu dan kapan-kapan juga mau coba," ungkap lelaki yang kini menginjak usia 35 tahun ini, Senin, (4/12).

Kesempatan emas itu pun menjumpainya akhir tahun ini, bertepatan dengan peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional pada 3 Desember. Tak ketinggalan, organisasi Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan (Perdik) Sulsel dengan sukarela menjadi jembatan emasnya. Mereka ikut menggandeng puluhan komunitas penggiat alam asal Makassar, Enrekang, hingga Toraja.

Adil terpaksa meninggalkan istri dan dua anaknya di rumah. Pekerjaan sebagai seniman jalanan ditanggalkan sementara waktu. Berbekal sepatu treking, kaca mata hitam, dan tongkat kesayangan, ia ingin menyisipkan namanya di antara para penakluk puncak.

Bagi Adil, tak perlu ada perbedaan antara kaum difabel dengan masyarakat umum. Mereka juga ingin mendapat tempat yang setara. Tak perlu menciptakan sekat dalam melakukan aktivitas atau mencari nafkah. Buktinya, ketinggian 2.100 mdpl juga bisa dicapai hanya dalam waktu tiga jam.

Pimpinan Operasi (PO) Menembus Batas, Syam Sumarlin pun menganggap pendakian semacam itu sengaja digalakkan oleh timnya dalam kurun dua tahun terakhir. Pendakian pertama menapaki puncak Rante Mario, setahun silam. Hanya saja, mereka hanya membawa tiga atlet difabel kala itu. "Pendakian kali ini justru lebih istimewa karena ada 10 difabel yang ikut berpartisipasi. Bahkan, mereka mendapat dukungan dari banyak teman-teman yang tergabung dalam komunitas pecinta alam," ungkap lelaki yang akrab disapa Caling ini.

Proses pendakian berlangsung cukup lancar. Apalagi Caling dkk sudah mempersiapkan para atlet difabel sejak awal. Mereka membagi masing-masing difabel agar didampingi 4-5 orang. Merekalah yang bertanggung jawab terhadap kesiapan difabel hingga proses perjalanan menuju puncak.

Meski begitu, salah satu atlet difabel, Abdul Rahman, sempat tergelincir. Itu lantaran dirinya terlambat menerima instruksi dari pendamping. Satu-satunya pedoman untuk bergerak di alam liar seperti itu adalah instruksi pendamping. Beruntung, kendala itu tak membuatnya patah arang untuk melanjutkan perjalanan hingga akhir.

Hanya butuh tiga jam bagi tim yang hampir mencapai 100 orang itu untuk menggelar tenda di puncak Sesean. Jelang gulita, mereka sudah bisa beristirahat sembari menikmati kebersamaan tanpa ada perbedaan. Satu-satunya sekat adalah tenda para pendaki. Kehangatan menguar bersama aroma kopi yang diseruput dengan tawa.

Perjalanan itu menjadi pelajaran berharga bahwa setiap manusia adalah setara di mata Tuhan. Abdul Rahman yang juga Direktur Perdik berharap agar tak ada lagi penggunaan istilah cacat atau tuna kepada orang yang berkebutuhan khusus. Menurutnya, hal itu justru menyinggung perasaan para disabilitas. "Mari menggunakan kata difabel atau disabilitas. Seperti difabel buta untuk netra, difabel daksa, difabel grahita (down syndrome). Karena semua orang sama di hadapan hukum dan tidak ada manusia rusak atau cacat," tegas lelaki yang juga akrab disapa Gusdur ini. Ia sempat menekankan hal itu saat menggelar upacara peringatan Penyandang Disabilitas Internasional dari puncak Gunung Sesean.

Gusdur sendiri tak bisa menutupi perasaan gembiranya setelah sukses mencapai puncak Gunung Sesean. Semangatnya semakin berlipat dengan kehadiran puluhan komunitas penggiat outdoor. Padahal, ia tak pernah menduga pendakiannya akan sesak dengan pemuda-pemudi tangguh semacam itu. "Atlet kita juga bertambah. Dari hanya tiga orang saat pendakian gunung Latimojong (tahun lalu, Red), kini menjadi 10," imbuhnya lagi.

Dengan bertambahnya atlet difabel, tambah Gusdur, bisa diartikan bahwa para orang tua atau orang terdekat sudah mengizinkan mereka keluar rumah dan beraktivitas sebagaimana umumnya. Mendaki gunung memang bukan hal mudah. Akan tetapi, dorongan moril dari semua orang jadi amunisi istimewa agar mereka terus menancapkan mimpi setinggi gunung. (mam/rif/jpg)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%