Kronologis Meninggalnya Dokter Budi saat Mendaki Gunung Ijen

Selasa, 14 November 2017 | 12:15
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Para pendaki Gunung Ijen menikmati matahari terbit.

INDOPOS.CO.ID - Dokter Budi Raharjo, 60, mantan Direktur Utama RSUD dr Soebandi Jember meninggal usai mendaki di Puncak Gunung Ijen. Budi mengembuskan napas terakhir diduga karena tebalnya kabut dan menipisnya kadar oksigen. Lantaran yang bersangkutan juga memiliki riwayat penyakit asma.

Awalnya Budi mendaki puncak puncak gunung dengan ketinggian 2.443 meter di atas permukaan laut tersebut bersama keluarganya pukul 01.00, Sabtu lalu (11/11). Pada saat mendaki trek Ijen yang agak sedikit curam, Budi memaksakan diri untuk terus naik menuju puncak.

Sebelumnya Budi sudah diperingatkan oleh istri dan kedua anaknya agar tidak naik ke puncak karena memiliki riwayat penyakit asma. Namun, dia tetap ngotot dan memaksa untuk naik ke puncak. Dengan penuh perjuangan akhirnya Budi bersama rombongan sampai di puncak Ijen pada pukul 04.30.

Karena suhu yang sangat dingin serta udara yang semakin menipis, penyakit asma yang dia derita kambuh.

Sempat mengalami sesak napas dan batuk berat korban langsung tergeletak jatuh.

Kemudian Budi sempat pingsan dan beberapa penambang belerang pun bergegas menolong korban yang sedang dalam keadaan hipotermia tersebut. Saat dibawa turun menggunakan troli penambang belerang menuju pos Paltuding, di tengah perjalanan Budi sudah tidak bernyawa lagi.

Korban sempat dilarikan menuju Puskesmas Licin, Namun, menurut dokter Puskesmas Licin korban sudah meninggal. Korban yang tidak bernyawa itu pun akhirnya dibawa menuju RSUD Blambangan menggunakan mobil Pajero Sport warna hitam milik korban.

”Saat tiba di RSUD Blambangan, korban sudah tidak bernyawa lagi dan langsung dimandikan serta dikafani. Kemudian dibawa ke rumah duka yang ada di Jember,” ujar Yudi, petugas RSUD Blambangan.

Kepala Pos Pengamat Gunung Api (PPGA) Ijen Bambang Heri Purwanto mengatakan, pada saat korban naik ke puncak kabut memang tebal. Selain itu, menurut catatan alat pemantau gas tidak menunjukkan udara sekitar puncak Ijen mengalami perubahan ke tingkat bahaya.

”Terkait meninggalnya korban tidak ada kaitannya dengan gas beracun dari Kawah Ijen. Diduga korban mempunyai riwayat sakit asma dan kambuh sewaktu sampai di puncak,” papar Heri.

Sementara itu, Kepala Resort Wilayah Ijen Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sigit Hariwibowo mengatakan, tindakan yang diambil petugas maupun penambang belerang sudah tepat.

Mereka memberikan bantuan oksigen kepada korban. Begitu sampai di pos Paltuding, korban langsung dibawa ke arah Banyuwangi. ”Kami selalu mengimbau kepada para pengunjung Ijen agar selalu mematuhi peraturan yang sudah terpasang di Pos Paltuding. Bagi pengunjung yang memiliki riwayat sakit asma, jantung, tekanan darah tinggi dilarang melakukan pendakian ke Kawah Ijen,” tandas Sigit. (kri/aif/c1/jpg)

Editor : Syaripudin
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%