Teguh Bintoro, Lulusan Bahasa Indonesia yang Kini Jadi Mentor Seni Rupa

Melukis, Dulu Dilakukan sebagai Strategi Bertahan Hidup

Kamis, 12 Oktober 2017 | 16:09
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
SENIMAN: Bintoro menyelesaikan lukisan di halaman rumahnya, Selasa (10/10).

INDOPOS.CO.ID - Nasib orang, siapa yang tahu. Begitu juga dengan jalan hidup Teguh Bintoro, warga Ngadirenggo, Pogalan, Trenggalek, Jawa Timur, ini. Alumnus IKIP Malang jurusan bahasa Indonesia ini tak hanya gemar di dunia literasi, tetapi juga di lingkungan seni. Kini, dia memiliki sanggar seni dengan belasan anak didik.

AGUS MUHAIMIN, Trenggalek

Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB ketika koran ini sampai di halaman rumah Teguh Bintoro. Rumah model minimalis, dengan cat warna kuning lebih dominan. Ada banner berukuran sekitar 3 x 4 meter di teras rumah tersebut, bertuliskan ‘Bin Art’ dengan sejumlah gambar karya lukis anak-anak.

Sore itu, suasana rumah tampak lengang. Bintoro terlihat di teras rumah, sibuk dengan besi dan kawat di tangan. “Ini mau bikin plafon untuk dapur belakang,” katanya sambil mengajak masuk ke ruang tamu, bercakap-cakap.

Aura seni terpancar kuat dari pria 53 tahun ini. Dengan mengenakan kaus oblong warna hitam dan topi  berwarna gelap, rambut panjangnya dibiarkan tersembunyi. Pria berkulit sawo matang ini sekarang lebih dikenal sebagai guru atau instruktur seni rupa dibanding pegiat literasi. Meskipun dia masih terlibat aktif dalam penerbitan buku bersama rekan-rekannya, aktivitas rutinnya mengajar seni lukis dan teater lebih diketahui masyarakat sekitar.

Ya, saat ini Bintoro memiliki belasan anak didik yang konsen di bidang seni rupa. Sebagian mereka datang tiap Minggu, tetapi tak jarang juga Bintoro jemput bola mendatangi rumah anak yang berminat belajar seni rupa.

Perjalanan Bintoro terjun di bidang seni ini cukup unik. Betapa tidak, selain karena gemar menggambar, untuk anak kuliah 80-an bisa dibilang cukup jarang karena terkendala biaya dan  motivasi belajar kala itu yang masih belum seperti geliat zaman milenium seperti saat ini. “Ini dulu strategi bertahan hidup,” ujarnya, lantas tertawa mengenang zaman kuliahnya dulu.

Memiliki dasar atau kegemaran di bidang menggambar,  saat itu digunakan menambah bekal kuliah yang terbatas dari orangtua. Seni rupa merupakan salah satu kegiatannya yang bisa mendatangkan penghasilan lewat karya, waktu itu.

Dia juga aktif di bidang ekstrakurikuler lain, teater dan sastra. Maka tak heran jika dia juga memberikan sejumlah materi lain kepada anak didiknya sehingga tidak hanya terbatas pada melukis, tapi juga teater dan baca puisi. Tercatat beberapa di antara anak didiknya ini sudah masuk dalam nominasi perlombaan lokal maupun regional.

Menjadi mentor atau instruktur seni di Kota Keripik Tempe ini, diakuinya bukan persoalan mudah. Yang menjadi tantangan dan kendala, umumnya adalah soal pendidikan atau lingkungan anak. Hampir dipastikan anak-anak yang ditanganinya terbelenggu oleh ketakutan. Artinya, mereka takut salah sehingga ide atau ekspresi yang dibutuhkan dalam seni rupa tidak bisa tampak. “Jadi bahasa ‘ojo (jangan)’ itu pengaruhnya sangat luar biasa pada anak. Mereka menjadi takut dan tidak mengekspresikan diri,” katanya.

Alhasil, tugas awal Bintoro adalah membangkitkan keberanian anak-anak tersebut. Dia juga tidak memberikan penghargaan atau hukuman kepada anak-anak seperti halnya yang diterapkan di sekolah-sekolah umumnya. Itu karena seni bukan untuk dinilai. Baik dan tidak dalam dunia seni merupakan karya seni itu sendiri, mengingat sudut pandang seni sangatlah luas. Dia hanya menujukkan dasar-dasar dalam lingkup seni, seperti komposisi karya, penggunaan warna, dan orisinalitas sebuah karya. “Ya, memang harus sabar. Saya percaya, lama-lama mereka akan menemukan sendiri seni yang pas untuk mereka sendiri,”  jelas dia.

Dia memang senang dengan anak-anak yang belajar seni. Peranti untuk kegiatan tersebut pun sebagian ditalangi, agar anak yang sudah senang dengan seni tersebut tidak merasa terbebani. Pihaknya juga tidak menargetkan agar peserta didiknya menjadi seniman-seniman kondang semua. “Cukup satu atau dua saja, asal benar-benar setia dengan seni,” tandasnya. (ed/and/jpg)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%