Lima Drone Pantau Gunung Agung

Kamis, 12 Oktober 2017 | 12:45
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
BNPB bersama PVMBG menerbangkan drone atau pesawat tanpa awak untuk melakukan pemantauan puncak kawah dan lingkungan sekitar Gunung Agung. Foto: BNPB for Indopos

INDOPOS.CO.ID - Tidak adanya peralatan di puncak kawah Gunung Agung menyebabkan tidak dapat diketahui kondisi visual secara terus menerus. Sementara itu puncak kawah berbahaya dan tidak boleh ada aktivitas masyarakat. Untuk melakukan pemantauan puncak kawah dan lingkungan sekitar Gunung Agung, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama PVMBG menerbangkan drone atau pesawat tanpa awak.

Kepala BNPB Willem Rampangilei menginisiasi penggunaan drone untuk memantau kawah Gunung Agung. “Kita harus kerahkan drone yang memiliki spesifikasi khusus terbang tinggi yang mampu mendokumentasikan semua fenomena di kawah. Tanpa drone kita tidak tahu apa yang terjadi. Citra satelit tidak dapat setiap saat memantau perkembangan kawah. Oleh karena itu, drone menjadi pilihan yang terbaik. Aman, efektif dan update,” kata Willem kepada INDOPOS, Kamis (12/10).

BNPB mengerahkan 5 unit drone dengan spesifikasi berbeda. 3 unit drone fixed wing yaitu koax 3:0, tawon 1.8 dan mavic, sedangkan 2 unit drone jenis rotary wing adalah multirotor M600 dan dji phantom.

Mengingat tinggi Gunung Agung sekitar 10.400 kaki maka diperlukan drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Tidak banyak drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Rata-rata drone didesain terbang pada ketinggian 7.000 kaki sehingga saat diperlukan untuk terbang tinggi tidak banyak yang tersedia. Drone koax 3:0 dan tawon 1.8 memiliki kemampuan terbang hingga 13.000 kaki. Mesin menggunakan bahan bakar ethanol agar dapat terbang tinggi.

Penggunaan drone untuk penanggulangan bencana bukanlah hal yang baru. Untuk kebutuhan kaji cepat yang efektif, drone sangat bermanfaat. Keluwesan terbang drone, baik vertikal maupun horizontal dalam jangkauan tertentu, serta kemampuan mengambil gambar dari ketinggian tertentu, drone telah menawarkan gambar atau landscape berbeda dalam melihat peristiwa bencana.

Beberapa kali BNPB bersama Lapan, BIG, BPPT, TNI, Basarnas, BPBD dan relawan menerbangkan drone untuk penanganan bencana seperti dalam penanganan letusan Gunung Sinabung, Gunung Kelud, banjir Jakarta, longsor Ponorogo, longsor Banjarnegara dan lainnya. Sebuah studi yang dilakukan Palang Merah Amerika menyebutkan bahwa drone adalah salah satu teknologi baru yang paling menjanjikan dan ampuh untuk meningkatkan respons bencana. (rmn)

Penulis : Ali Rachman Editor : Muhammad Izzul Mutho
Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%