Suratman dan Rusmini, Transmigran yang Tak Mudah Putus Asa

Sempat Ditentang Keluarga, Berbulan-Bulan Makan Singkong

Rabu, 13 September 2017 | 15:15
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
SUKSES: Pasangan suami istri Suratman dan Rusmi yang sukses setelah ikut program transmigrasi

INDOPOS.CO.ID - Andai mereka menyerahkan dan balik kembali ke daerah asalnya, Tuban, Jawa Timur, tentu Tanah Laut tidak mengenal nama Edy Porwanto sebagai ketua KONI Tala, atau Akhmad Rozi sebagai Komisioner KPU Tala. Kakak beradik itu anak Suratman dan Rusmini, transmigran Tajau Mulya, Batu Ampar.

ARDIAN HARIYANSYAH, Pelaihari

MEMUTUSKAN ikut transmigrasi empat puluh tahun silam ke Kabupaten Tanah Laut (Tala), Kalimantan Selatan untuk mengadu nasib, sempat ditentang keluarga. Kehidupan keras di tempat yang baru sempat membuat Suratman dan Rusmi hampir goyah.

Untuk mengunjungi lokasi Tajau Mulya, Batu Ampar ini dari Kota Pelaihari tidaklah sulit. Selain bisa diakses dengan menaiki kendaraan roda dua dan empat, pasangan suami istri ini merupakan orang tua dari ketua KONI Tala Edy Porwanto dan juga sebagai ketua DPD Partai Nasdem Tala.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, 74 tahun, dia masih tampak sehat dan memiliki daya ingat yang cukup baik. Dia bercerita ketika mengikuti transmigrasi pada era Presiden Soeharto kala itu.

Saat kali pertama menyampaikan ingin mengikuti transmigrasi, dia mendapat tentangan keluarga. Namun sudah menjadi tekad mengikuti pembekalan dan pelatihan, agar kehidupan dapat berubah dari tempat kelahirannya di Jati Mulya, Plumpang, Tuban, Jawa Timur. "Kepergian saya bersama istri dan anak ditangisi," kenangnya.

Ketika menginjakkan kaki di Kalimantan Selatan, saat itu kawasan yang menjadi pemukimannya bernama lokasi Transmigrasi Tajau Pecah Blok B Kecamatan Jorong dan kini berubah menjadi Tajau Mulya, dirinya terkejut. Apa yang diceritakan keluarga besarnya benar adanya. Kalimantan itu merupakan hutan dan sulit untuk mengadu nasib. Tetapi, itu tidak mematahkan semangatnya tetap berada di lokasi transmigrasi.

Rombongan transmigrasi yang berjumlah 140 kepala keluarga itu menetap dan mendapat tempat tinggal beralas tanah, dan pekarangan serta ladang. "Dua tahun kami mendapat kebutuhan pokok," jelasnya.

Ternyata, tidak semudah dibayangkan. Kerja kerasnya sebagai transmigran selama dua tahun itu tidak terlihat perubahan. Sampai akhirnya dirinya bersama istri dan kelima anaknya hanya makan nasi jagung dan singkong selama berbulan-bulan. "Nasi saat itu merupakan makanan yang mewah," tuturnya.

Semangat baja dan rasa optimistis yang tinggi bersama warga transmigrasi lainnya, mulai terlihat saat lima tahun berjalan. Warga transmigrasi sudah mampu merehab rumah. "Saya akhirnya mampu sekolahkan anak-anak," jelasnya.

Tidak berhenti di situ saja, dirinya pun masih bertanggung jawab terhadap kelima anaknya untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Di puncak pencapaiannya, Suratman bersama Istri pada 2011 melaksanakan ibadah haji yang merupakan hasil dari kerasnya sebagai seorang transmigran.

Sukses pasangan suami istri ini tidak hanya dinikmati oleh keduanya, tapi juga dirasakan kelima anaknya seperti Akhmad Rokhim, Siti Rofiah, Akhmad Rozi, Rachmad, dan Edy Porwanto. Terbukti, Akhmad Rozi mampu menyelesaikan S2, juga menjadi Komisioner KPU Tala, dan sebelumnya menjadi anggota Banwas Tala periode sebelumnya.

Edy Porwanto juga meraih sukses. Selain menjadi Manajer Shop Dealer Yamaha Pelaihari, juga sebagai ketua DPD Partai Nasdem Tala, ketua KONI Tala dan wakil ketua PMI Provinsi Kalsel. (by/ram/jpg)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%