Tiga Guru Silat Bebas: Orang Tua Viko Kecewa

Jumat, 11 Agustus 2017 | 17:46
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
BEBAS: Tiga guru silat PSHT saat menjalani persidangan. (RIZAL ARI ANDANI - RadarKediri/JawaPos.com)

INDOPOS.CO.ID - Vonis bebas terhadap tiga guru pencak silat Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) mengejutkan banyak pihak. Termasuk juga kedua orang tua korban, Viko Sandi Pratama, 15, warga Desa Maron, Kecamatan Banyakan. Bahkan, saking terkejutnya ayah Viko, Puji Siswanto, 39, pun jatuh sakit sehingga  cuti bekerja.

Tiga orang yang divonis bebas tersebut adalah dua warga Desa Sendang, Kecamatan Banyakan, yaitu Khoirudin, 27, dan Mohammad Ageng Hartono, 28. Lainnya adalah Mas Agus Hasanuddin Pakeh, 28, warga Desa Ringinrejo, Grogol.

Begitu mengetahui berita jika mereka dibebaskan dari tuntutan pasal 80 ayat (3) UU No 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Puji pun mengaku langsung tidak nafsu makan.

Karena itu, kemarin tubuhnya masih terasa lemas. “Karena itu saya tidak bekerja,” ujarnya. Selama ini, Puji memang bekerja sebagai karyawan outsourcing di Koperasi Mekar.

Begitu pun dengan Yuliati. Usai mendengar jika tiga guru silat anaknya dibebaskan dari tuntutan, ia mengaku langsung merasa tidak enak badan. Sejak sidang Rabu (9/8), ia mengaku belum tidur sama sekali. “Saya terus berpikir. Bagaimana bisa tuntutan 14 tahun penjara mental begitu saja oleh majelis hakim,” ujar Yuliati.

Karena itu, ia mengaku merasa sangat kecewa. Apalagi, majunya jadwal sidang tanpa sepengetahuannya. Memang, sepanjang persidangan Yuliati dan sang suami memang selalu hadir untuk mengawal. Kecuali dalam dua sidang terakhir. “Yang pertama saat demo kemarin. Ada yang melarang kami masuk dengan alasan supaya tidak menimbulkan gejolak,” ujar Yuliati.

Kemudian yang terakhir, saat sidang putusan. Rabu siang itu ia terkejut ketika mendengar kabar sidang telah usai. Padahal, saat itu, ia dan sang suami hendak berangkat untuk mengawal sidang putusan tersebut. “Padahal saya telepon sekitar pukul 12.30. Biasanya saya nunggu sejak pukul 13.00 sidangnya baru dimulai pukul 14.00,” ujar Yuliati.

Terkait vonis bebas terhadap Khoirudin, Hartono, dan Pakeh, Yuliati mengaku tidak terima. “Bagaimana vonis bebas bisa memberi pelajaran bagi mereka. Kami khawatir kalau kasus serupa terulang lagi,” ujar Yuliati.

Karena itu, ia pun berharap agar jaksa penuntut umum Kajaksaan Negeri Kabupaten Kediri mengajukan kasasi. “Saya tentu mendukung upaya jaksa untuk mengajukan kasasi,” ujar Yuliati.  Ia pun mengaku dalam waktu dekat akan berkunjung ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Kediri untuk menanyakan langkah hukum selanjutnya dari pihak JPU terhadap kasus yang menewaskan anak pertamanya itu.

Untuk diketahui, Viko tewas dalam sesi latihan rutin . Tepatnya pada hari Rabu, 4 Januari lalu.  Saat itu, ketiga terdakwa sedang melatih Viko dan kawan-kawannya di halaman depan rumah Khoirudin.

Hari itu, Viko mendapat dua kali pukulan dan satu kali tendangan. Setelah bersiap dalam posisi kuda-kuda, tendangan dari Hartono mendarat tepat di dada Viko. Kemudian Agus ganti yang mendaratkan pukulan di perut remaja tersebut. Dan terakhir, ganti Khoirudin yang memukul dada Viko.

Namun nahas, niat melatih tersebut justeru mengakibatkan Viko pingsan. Ketiganya sempat  mengoleskan minyak angin dengan tujuan untuk menyadarkan Viko. Namun upaya itu gagal. Ketiganya langsung melarikan Viko ke RS Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan. Namun sayang, setelah dirawat beberapa saat kemudian Viko pun tewas.  (rk/rzl/die/JPR)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%