Sesalkan Media Abal-Abal Menjamur, Berbagi Ilmu Jurnalistik ke Kades

Jumat, 19 Mei 2017 | 20:35
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
MELEK TERUS: Para Kades, perangkat desa, dan anggota BPD setelah mengikuti pelatihan jurnalistik program Desa Melangkah 2017 di Umsida kemarin. Selama lebih dari dua jam, mereka mengikuti acara tersebut dengan antusias. (Chandra Satwika/Jawa Pos/JawaPos.com)

INDOPOS.CO.ID – Ruang Auditorium KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), dipenuhi para kepala desa serta perwakilan perangkat desa dan badan permusyawaratan desa (BPD) Kamis (18/5). Para ’’pentolan’’ dari 154 desa yang tersebar di 12 kecamatan se-Sidoarjo itu datang untuk mengikuti pelatihan jurnalistik bertajuk ’’Bagaimana Peran Media untuk Pemberdayaan Desa’’.

Mereka tampak antusias melontarkan pertanyaan kepada tiga narasumber. Yaitu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim Akhmad Munir, redaktur Jawa Pos Priyo Handoko, dan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Fisip Umsida Didik Hariyanto.

Acara dibuka langsung oleh Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Kemahasiswaan, dan Humas Umsida Hindarto. ’’Desa harus terus bergerak memunculkan inovasi layanan yang baru agar semakin sejahtera,’’ ujar Hindarto.

Munir menyampaikan, pers menjalankan sejumlah fungsi. Yaitu, mendidik, (memberikan) informasi, menghibur, dan kontrol sosial. Ironisnya, di tengah era reformasi dan globalisasi seperti sekarang banyak bermunculan media ’’abal-abal’’ yang mencederai sederet fungsi mulia pers. ’’Kalau ada media yang fungsinya di luar itu, perlu dipertanyakan kredibilitasnya,’’ kata Munir.

PROAKTIF: Peserta Pelatihan Jurnalistik Desa Melangkah dalam sesi tanya jawab dengan pemateri pada Kamis (18/5) di Umsida.

PROAKTIF: Peserta Pelatihan Jurnalistik Desa Melangkah dalam sesi tanya jawab dengan pemateri pada Kamis (18/5) di Umsida. (Chandra Satwika/Jawa Pos/JawaPos.com)

Anggota BPD Wilayut, Kecamatan Sukodono, Suwandi, menceritakan bahwa selama ini dirinya sering kurang nyaman dengan perilaku oknum-oknum tertentu yang mengatasnamakan wartawan. Mereka kerap mengintimidasi aparat desa yang tengah mengerjakan proyek-proyek tertentu.

’’Disangkanya kami macam-macam. Tapi, setelah ikut acara ini, saya lumayan mengerti bagaimana cara menghadapi mereka,’’ jelasnya. ’’Saya juga jadi mengerti apa yang harus dilakukan,’’ tutur Kades Kedungkembar, Prambon, Khoirur Rozikin. (jos/c15/pri)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%