Tempat Jujukan Penghobi dan Kolektor Burung-Ikan, Ya Di Bratang-Gunung Sari Tempatnya

Kamis, 20 April 2017 | 19:12
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
PILIH-PILIH: Bukan hanya burung, Pasar Burung Bratang juga menyediakan sangkar. (Dika Kawengian/Jawa Pos/JawaPos.com)

INDOPOS.CO.ID - Pasar bukan hanya tempat pertemuan penjual dan pembeli. Lebih dari itu, ia menjadi jujukan penghobi binatang. Dua di antaranya adalah Pasar Ikan Gunung Sari dan Pasar Burung Bratang.

RAMAI nian suasana Pasar Burung Bratang, Rabu (19/4). Suara-suara itu bukan berasal dari manusia. Melainkan kicauan burung-burung. Cuit...cuit...cuit.

Beragam nada suara itu saling bersahutan. Maklum, yang dijual di sana bukan benda mati, melainkan burung. Tak pelak, burung-burung itu berkicau sepanjang hari.

HOBI: Pengunjung melihat ikan-ikan dalam plastik di Pasar Ikan Gunung Sari.

HOBI: Pengunjung melihat ikan-ikan dalam plastik di Pasar Ikan Gunung Sari. (Arya Dhitya/Jawa Pos/JawaPos.com)

 

 

Pasar di Jalan Bratang Binangun tersebut menawarkan banyak sekali burung. Bermacam-macam ukuran, warna, dan jenis. Jadi, bisa dibayangkan betapa gaduhnya suasana di sana. Burung-burung saling ’’ngerumpi’’. ’’Ada sekitar 220 toko di sini,” ucap Koordinator Umum Pasar Burung Bratang Vita Asih Rahayu. Satu toko bisa dipakai lebih dari satu penjual. Satu penjual menawarkan berbagai jenis burung.

Pasar Burung Bratang berada satu kompleks dengan Pasar Inpres Bratang. Penjual burung berada di pusat pasar. Lalu, di sisi kanan, terdapat kelompok penjual tanaman. Sisi kiri ditempati kelompok pedagang ikan. Kalau masuk lebih dalam, ada beberapa penjual unggas, kucing, dan kelinci. ’’Di sini penjualnya awet-awet. Rata-rata sudah berjualan puluhan tahun,” kata Vita.

Pasar burung tersebut menjadi tempat pertemuan kolektor. Baik dari Surabaya maupun luar Surabaya. Ada burung yang harganya puluhan ribu sampai puluhan juta rupiah. Salah seorang penjual burung adalah Abdul Wasik. Pria 50 tahun itu menjual burung nuri. Burung berwarna-warni memenuhi tokonya. Mereka tidak dimasukkan sangkar. Wasik mengikat kaki burung, lantas menenggerkannya di kayu. Rabu itu terlihat puluhan burung nuri di kiosnya. Dia menjualnya Rp 900 ribu per ekor. ’’Di sini masih bisa kalau mau tawar,” ungkap pedagang yang berjualan di pasar tersebut selama 20 tahun itu.

Selain Wasik, ada Sabar Prayitno. Jenis burung di toko Sabar lebih beragam. Di antaranya, lovebird, perkutut, palek (parkit australia), merpati, nuri, dan gelatik. Nilainya berbeda-beda. Hal tersebut berdasar pada kemampuan burung. ’’Bisa dilihat dari suaranya, pengalamannya ikut lomba, warnanya langka atau tidak. Macam-macam penilaiannya,” jelas pria yang sudah berjualan burung selama 10 tahun itu.

Dia mencontohkan burung cinta atau lovebird. Warna violet dijual Rp 1,7 juta. Harga tersebut lebih mahal jika dibandingkan dengan burung cinta berwarna biru muda yang hanya sekitar Rp 1 juta. ’’Itu tadi, nilainya dari kelangkaan warnanya,” tuturnya.

Ada pula burung palek (cockatiel). Burung itu bisa bernyanyi. Semakin lama berkicau, semakin mahal harganya. Beberapa burung palek sering kali diikutsertakan dalam lomba. ’’Sampai ada yang bisa nyanyi 2 menit. Itu harga Rp 50 juta saja, nggak dikasih,” tambah Sabar.

Nah, kalau berburu di Pasar Ikan Gunung Sari, kita bisa melihat plastik-plastik berisi ikan hias bergelantungan. Bak gelembung lampion tergantung di sepanjang jalan. Gerombolan ikan juga diletakkan dalam ember-ember di emperan pasar. Pedagang membangun tenda semipermanen. Menarik untuk dilihat dan dipilih-pilih ratusan pengunjung yang berseliweran. Suasana seperti itu selalu terlihat ketika waktunya grosiran setiap Rabu dan Sabtu.

Grosiran adalah hari para penjual yang berasal dari luar kota menggelar dagangan di sana. Pada hari grosiran, pukul 05.00 para pedagang berkumpul dan mulai menata ikan-ikan yang hendak dijual. Pada Rabu (19/4) terdapat 53 pedagang pendatang.

Pedagang asal Kediri, Waras Prayitno, hampir setiap minggu bongkar pasang tenda untuk menggelar dagangan di pasar ikan. Waras berjualan di tenda berukuran 4 x 2 meter bersama tiga pedagang lain. Waras berjualan ikan sejak SMA. Perempuan 42 tahun itu meneruskan usaha ayahnya. ”Yang boleh dagang di kios kan hanya warga Surabaya. Yang dari luar (kota) biasanya berjualan saat hari grosiran,” jelasnya.

Ikan yang dijual Waras berharga Rp 20 ribu–300 ribu per kantong. Pembeli memang harus membeli minimal satu kantong. ”Sekantong isinya beragam, bergantung ukuran dan jenis ikan. Ada yang isi 100. Kalau besar seperti nila atau arwana, ya isinya hanya dua,” terangnya.

Di bagian lain, Tri Setyawati sedang menghitung bibit ikan cupang yang dibelinya saat dipindahkan ke plastik. Tri kulakan ikan cupang yang kemudian dijual ke sekolah-sekolah. Satu bibit cupang seharga Rp 800 dijual lagi Rp 2 ribu.

Pasar ikan menjadi salah satu tempat berkumpulnya pedagang dan penghobi ikan hias di Surabaya. Pasar dibangun pada 2009 dan diresmikan 25 Agustus 2010. Di atas lahan seluas 2.711,65 meter persegi, terdapat 158 kios. Perinciannya, 80 kios di lantai bawah dan 78 kios di lantai atas. Di setiap lantai, juga terdapat fasilitas berupa kamar mandi. Pasar ikan dibuka setiap hari pukul 06.00 hingga 12.00. ”Para pedagang merupakan pindahan dari Jalan Irian Barat dan Jalan Papua. Mereka menyewa stan setiap bulan,” ujar Staf Admin Pasar Ikan Hias Gunung Sari Denny Maryani.

Terdapat ratusan jenis ikan hias, baik air tawar maupun laut, yang dijual. Harganya pun beragam. Mulai Rp 800 hingga jutaan rupiah per ekor. Terdapat pula bibit ikan konsumsi seperti gurami, lele, nila, dan mujair.

Semua ikan yang dijual di pasar diawasi Dinas Kelautan dan Perikanan Surabaya. ”Jadi, nggak boleh jual ikan langka dan dilindungi. Para pedagang mendapatkan penyuluhan dari dinas kelautan dan perikanan pusat,” papar perempuan yang bekerja sebagai petugas pasar ikan sejak 2013 tersebut.

Pasar ikan juga menjadi base camp beberapa komunitas pencinta ikan, aquascape, dan hewan air lain. Salah satunya, Toko Mutiara Jaya Aquarium. Stan tersebut merupakan base camp Komunitas Ikan Predator Suroboyo (Kipas). ”Komunitas biasanya mengadakan kontes atau lelang antar penghobi. Saya juga anggota grup Lohan Jawa Timur,” jelas Rofiq, penjaga toko. (bri/esa/c7/jan/sep/JPG)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%