Mengenal Nico Putra Welas yang Jatuh Hati Budaya Dayak

Membuat Tato Dibayar Pusaka Mandau

Senin, 20 Maret 2017 | 23:42
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
KOLEKSI: Nico Putra Welas memperlihatkan langsung koleksi pribadi benda antik miliknya

INDOPOS.CO.ID - Tak terpikirkan di benak Nico Putra Welas, yang awalnya cinta mati terhadap tato tribal, goyah. Mencoba menemukan jati dirinya lagi, ia melakukan perjalanan dari satu tempat ketempat lain. Hingga akhirnya mengenal budaya Dayak.

DENAR, Palangka Raya

SEKILAS mengikuti kegiatan adat di Palangka Raya beberapa waktu lalu, ada pemandangan menarik. Salah satu pondok perhiasan ornamen Dayak, senjata khas seperti mandau, pernak-pernik, bahkan ada beberapa fosil kepala buaya besar, dapat dilihat jelas.

Rasa penasaran terobati karena sang pemilik benda bersejarah itu, langsung mempersilakan masuk. Sempat terpikir ke luar pondok. Bulu kuduk berdiri. Namun, rasa penasaran tumbuh menjadi keberanian untuk duduk dan berbincang-bincang dengan sang empunya sejumlah karya seni tersbeut.

 “Silakan melihat-lihat pernak pernik khas Dayak, ada juga pengobatan alternatif akar-akaran khas Dayak,” sapa lelaki dengan postur gagah yang tubuhnya dipenuhi tato itu, beberapa hari lalu.

Setelah saling berkenalan, perbincangan mengalir. “Ini kartu nama saya, panggil saja Nico Putra Welas,” ucapnya sambil membersihkan beberapa helai bulu burung Tingang.

Nico, begitu ia lebih suka disapa, langsung membawa obrolan masuk ke dunianya. Dia mengaku bukan sejatinya seorang budayawan. Ia seniman. Dulu, ia menekuni seni tato. “Sebelum menetap di Palangka Raya beberapa tahun lalu saya hijrah ke Desa Tanjung Palas, Kalimantan Utara. Di sana saya bertemu tetua Dayak di sana, beliau memberikan sesuatu yang mempunyai nilai magis, karena beliau berkata saya memiliki kelebihan tidak bisa dilihat dengan kasat mata,” ucap Nico.

Meski begitu, sebenarnya dalam dirinya mengalir darah Manado dan Dayak Taboyan. Sejak bertemu dengan tokoh Dayak di Kaltara itu, ia bimbang. Hatinya goyah. Cintanya kepada seni tato berubah haluan.

“Saya masih ingat perkataan tetua dayak di Kaltara, namun saya masih meragukan hal itu, seiring waktu saya mengembangkan naluri akhirnya ada orang yang meminta tolong untuk dibukakan jodohnya dan ternyata orang itu dari keluarga Kesultanan Bulungan, dengan keyakinan dan doa saya menerima itu,” bebernya.

Mendalami pengetahuanya, dia bersama istrinya Hernawati melanjutkan perjalanan menuju Desa Madara, Barito Selatan. Mereka mencari petuah dan ziarah ke makam leluhur.

“Kami berdua mengunjungi makam keluarga istri di Muara Teweh. Dari berbagai pelajaran dan petuah dari orang yang dituakan, akhirnya saya sadar ada yang istimewa, semuanya saya lakukan untuk membantu orang dan juga sembari mengangkat budaya Dayak,” imbuhnya.

Kecintaannya kepada budaya Dayak Kalteng, sudah teguh. Saat ini, ia rela keliling ke berbagai tempat untuk memamerkan cinta barunya itu. “Saya bersama istri kadang mengikuti pameran, dan disitulah kami langsung memperkenalkan budaya dan kekayaan alam Borneo,” terangnya sembari membersihkan Mandau koleksi pribadi.

Dia pun langsung menceritakan tentang beberapa benda antik miliknya. Beberapa pusaka bermuatan magis, hingga piring tua berusia ratusan tahun.“Ini mandau saya dapat dari seseorang yang selalu diganggu sesuatu yang ada di pusaka tersebut, dan akhirnya pemiliknya meminta agar dibuatkan tato dengan bayaran sebuah Mandau tua,” ujarnya. (*)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%