Command Center di Desa Lamahu, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango

Laporkan Ibu Melahirkan hingga Gangguan Kamtibmas Cukup Pencet Satu Tombol

Jumat, 17 Maret 2017 | 22:49
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
MENJAJAL: Kepala Desa Hasan Hasiru bersama tim ahlinya Syamsu Panna menjajal fungsi Smart Pole pada layar kontrol Command Center di kantor Desa Lamahu, Kamis (16/3).

INDOPOS.CO.ID - Desa Lamahu, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango disebut-sebut yang pertama di Indonesia menerapkan desa digital. Lewat Lamahu Command Center, cukup dengan menggunakan Android, semua kebutuhan pelayanan pemerintahan kepada masyarakat bisa terlayani.

CAISAR NTOMA,  Bone Bolango

Di Lamahu Command Center telah didesain teknologi yang bisa lebih mudah dan praktis mendapatkan akses kebutuhan layanan yang cepat. Konsep digital inilah yang kemudian digagas jajaran aparat Lamahu, Kecamatan Bulango Selatan, dalam mengembangkan Command Center berbasis Android.

 Sekilas saat menapakkan kaki di Desa Lamahu tentu yang kali pertama terkesan adalah jauh dari pusat keramaian kota. Permukiman warga yang berjejer di pinggiran jalan menjadi pemandangan yang lumrah menghiasi wajah pemekaran Desa Huntu itu. Untuk menjangkau pusat kantor desa pun harus menembus jalan kecil yang berada di antara pertengahan lahan persawahan warga.

Di Desa Lamahu sendiri mereka lebih mengembangkan konsep Command Center dalam skup desa. Menurut Kepala Desa Lamahu Hasan Hasiru menjelaskan bahwa Command Center adalah perwujudan cita-cita pemerintah Desa Lamahu yang digagas bersama karang taruna dan Pemuda Elnino Center. Ini dimaksudkan sebagai pusat pelayanan digital pemerintah desa yang banyak mendatangkan manfaat dalam melayani kebutuhan masyarakat. Cara kerjanya, lanjutnya, Command Center nantinya menjadi satu pusat sistem digital desa untuk memantau aktivitas sekaligus memberikan layanan masyarakat dalam satu desa.

Mengandalkan 32 tiang cerdas (smart pole) dilengkapi CCTV,WI-FI, lampu otomat, dan sensor cahaya dan gerak itu. Dipasang sebanyak 9 titik pada kawasan pinggiran desa dan 23 titik lagi di pemukiman rumah warga dan lahan pertanian.

Untuk memanfaatkan fungsi Command Center, masyarakat yang memiliki smartphone Android harus memiliki aplikasi tombol darurat (panik button) yang di dalamnya tersedia tiga pilihan. Di antaranya layanan keamanan, kesehatan, dan pelayanan pengurusan berkas kependudukan atau keterangan surat izin. Dengan begitu ketika para pemakai dalam hal ini warga ada kejadian tindak kriminal, maka hanya tinggal menekan tombol darurat pada aplikasi panik button itu. Dan seketika juga alarm akan berbunyi terintegrasi di smartphone Babinsa Babinkamtimas, aparat desa dan kecamatan serta kepala puskesmas.

"Jadi kalau ada pencurian tinggal langsung pencet saja tombol, maka direspons cepat warga dan aparat desa. Kalau pilih tekan tombol layanan kesehatan pada aplikasi panik button itu berarti tandanya ada penanganan kesehatan yang segera ditangani, baik itu sakit, meninggal, atau ibu melahirkan. Sementara kalau tekan tombol layanan pengurusan berkas, maka warga yang menekan secara otomatis itu akan muncul data lengkap kependudukannya yang telah diinput itu pada tampilan di layar. Itupun juga dengan mode tampilannya dari nama, letak GPS, dan identitas lainnya. Lalu tinggal dipenuhi saja apakah warga minta dibuatkan surat keterangan atau berkas kependudukan dan surat izin usaha,"jelasnya.

Dengan Command Center, satu kontrol akan mencakup banyak layanan kebutuhan masyarakat di antaranya seperti layanan e-siskamling, internet rakyat, sampai dengan smart village. Command Center itu juga menyediakan WI-FI gratis untuk masyarakat. Namun, untuk mengakses login internet kapasitas 100 Mega, setiap warga harus terlebih dahulu menginput data kependudukannya berupa NIK dan pasword. Layanan itu dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan remaja yang selalu beralasan pergi keluar hanya demi ke warnet.

Hasan dan Syamsu mengakui pembuatan Command center ini masih tergolong jauh dari kesempurnaan. Sebab, masih banyak kendala yang dirasakan. Meski demikian mereka berharap dengan bantuan pemerintah, Command Center itu akan berjalan lancar.

Dalam pembuatannya sendiri diakui keduanya butuh waktu yang cukup lama, dan sulit. Selain alat dan perangkat, butuh juga menyiapkan software aplikasi dan basis data. Tak heran pembuatannya memakan waktu berbulan-bulan. "Ini awal dananya hanya bersumber dari dana CSR Telkomsel pusat. Kami hanya buat proposal ajukan penjelasan skemanya sebanyak 4 lembar saja lalu dua minggu kemudian setelah dimasukkan langsung disetujui sebesar Rp 200 juta,"kata Syamsu. Terkait internetnya, jelas Syamsu, masih menunggu bantuan lagi dari Kemenkominfo, karena sekarang masih numpang internet kapasitas 10 Mega di Elnino Center. Lamahu Comand Center ini akan dilaunching 6 April mendatang. (*/jpg)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%