Ono Surono Ubah Potret Buram Nelayan

Sabtu, 18 Februari 2017 | 10:38
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Ono Surono (kiri)

INDOPOS.CO.ID - Keadaan lingkungan tempat kelahirannya, Indramayu, membuat Ono Surono yang bercita-cita jadi arsitektur memilih terjun ke dunia politik. Kondisi masyarakat yang mayoritas nelayan dengan taraf hidup rendah, sangat jauh dari gaya hidup orang yang tinggal diperkotaan membuatnya terpanggil untuk berbuat sesuatu.

Kuatnya niat untuk mengangkat perekonomian nelayan, membuat pria kelahiran Indramayu, 24 Agustus 1974 ini berupaya memahami kesulitan, kendala dan peluang yang perlu diterobos.

”Dari SMP saya sudah ikut menjaga hasil tangkapan ketika bongkaran. Dari hasil membongkar ikan, nanti yang jaga dapat jatah ikan, setelah itu saya jual ke pasar dan duitnya untuk uang saku. Jadi saya sudah paham betul kondisi lapangan dan kehidupan neyalan karena saya ini ada bersama nelayan itu,’’ kenang pria bertubuh tinggi kekar itu.

Ono melihat seberapa banyak pun hasil tangkapan nelayan dari laut kala itu tidak lantas membuat nelayan langsung kaya. Karena hasil tangkapan yang melimpah tak akan mampu membuat nelayan bertahan hingga musim paceklik tiba. Di era 1970, hampir 95 persen dari jumlah nelayan yang ada di Indramayu, hidup dalam keadaan serba kekuranagan. Bisa dikatakan jumlah tersebut masuk kelompok masyarakat di bawah garis kemiskinan.

Belum lagi ketika nelayan harus diperhadapkan pada musim barat atau timur yang dikenal dengan musim paceklik. Karena ketika tangkapan banyak, mereka hanya bisa menjual sebutuhnya pembeli, sisa nya dikonsumsi atau hanya sekadar diasinkan ala tradisional. Belum ada industri atau coldstorage yang bisa menampung hasil tangkapan untuk waktu yang lama. ”Kala itu para nelayan tidak memiliki keahlian lain. Sehingga kalau sudah musim paceklik ya hidupnya makan nggak makan,’’ ucapnya.

Bahkan dalam buku yang ditulis Ono dengan judul Koperasi Nelayan, tak sedikit nelayan yang harus menggadaikan barang yang mereka miliki untuk kebutuhan sehari-hari. Yang lebih membuat Ono prihatin dengan nelayan di daerah kelahirannya bila musim paceklik tiba, maka alternatif lain adalah meminjam ke tengkulak atau rentenir dengan bunga yang cukup tinggi.

”Untuk sesaat terkesan keluar dari kesulitan karena ada uang yang dipinjam untuk membeli makanan. Akan tetapi itu bukan menyelesaikan masalah, tapi menimbulkan masalah baru dan berkepanjangan,’’ cerita suami Setyowati Anggraini Saputro.

Dari cerita kesusahan nelayan tersebutlah muncul ide untuk mengubah potret buram nelayan lewat pemberdayaan strategi ekonomi masyarakat pesisir. Dia berpendapat kebijakan pembangunan perikanan perlu didasarkan pada landasar pemahaman yang benar. Mulai dari permasalahan mikro hingga makronya. Ono banyak memahami dunia perikanan dan mengusulkan kebijakan ke pemerintah karena melihat secara jelas persoalan di lapangan yang dihadapi nelayan. Bahkan sejak duduk di bangku SMA saja dia sudah masuk sebagai anggota koperasi dan kepengurusannya sudah turun dari orang tua.

”Saya mulai belajar bagaimana berorganisasi sejak SMA, sehingga ketika dipilih jadi ketua sudah paham karena sempat jadi karyawan koperasi, tapi mundur. Karena ketika itu ketua koperasinya orang tua saya,’’ akunya seraya menambahkan untuk menghindari masalah konflik karena akan dianggap nepotisme.

Lewat organisasi atau koperasi itulah dia juga terpanggil untuk terjun ke dunia politik. Banyak hal yang dibangun lewat organisasi terbentur aturan dan perlu dipercepat realisasi lewat keberpihakan pemerintah. Berbagai kebijakan di  legislatif yang disuarakannya bisa membuat keberpihakan terhadap pembangunan kehidupan nelayan lebih cepat terwujud. Semisal pembangunan infrastuktur sektor kelautan dan perikanan. ’’ Di koperasi perlu pemimpin berwatak kerakyatan perikanan bukan hanya sektor usaha hulu hilir,’’ kata alumnus Teknik Sipil, Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon itu.

Diawal membangun koperasi, ayah 4 anak ini waktu itu koperasi hanya namanya saja, kegiatannya tidak ada, sehingga sulit berkembang. Penyebabnya nelayan lebih banyak di laut, lalu tingkat pendidikan nelayan sangat rendah. Perubahan pun terjadi ketika berani mengubah pola pengelolaan koperasi. Mengembangkan koperasi tidak lagi hanya mengandalkan nelayan atau keluarga nelayan, tapi dikelolah secara profesional.

Keberanian awal membuka lowongan untuk bekerja di koperasi yang dibangunnya sistem seleksi karyawan yang profesional adalah jalan menuju mengubah potret suran nelayan. Kebutuhan tenaga kerja tidak  hanya di tingkat internal diumumkan, tapi di media lokal, radio dan koran.

Akhirnya mereka melakukan seleksi karyawan lebih ketat karena dari kebutuhan 10 karyawan yang daftar 100 orang.  ”Saya pernah memecat keluarga saya yang masuk sebagai pengurus koperasi karena tidak profesional,’’ tutur Ketua Koperasi Perikanan Laut Mina Sumitra periode 2008-2016 tersebut. (nel)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%