Aktivitas Unik Komunitas Safinda, Ngaji di Kereta

Rabu, 11 Januari 2017 | 22:50
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
MENGAJI SAMBIL REFRESHING: Dipimpin instruktur, satu orang boleh membaca satu juz. Sampai stasiun Kalibaru, mereka biasanya sudah khatam.

INDOPOS.CO.ID - Kegiatan mengaji Alquran tidak melulu harus dilakukan di dalam ruangan. Sebuah kelompok pengajian asal Banyuwangi mengaji di dalam gerbong kereta sepanjang perjalanan Banyuwangi–Jember.

Adi Faizin, Jember

MENGAJI dan memahami isi Alquran bisa dilakukan di mana saja. Termasuk dalam perjalanan kereta api. Ide kreatif tersebut dilakukan kelompok Program Pelatihan Terjemah Alquran (PPTQ) Safinatul Huda (Safinda) di Banyuwangi. Dengan menggunakan kereta api (KA) Pandanwangi, mereka mengisi perjalanan sepanjang Jember–Banyuwangi yang hampir tiga jam itu dengan khataman dan kajian Alquran.

 

”Ini atas usul jamaah kami, sambil refreshing. Kemudian, kami bantu memfasilitasi,” ujar Ahmad Zakaria, salah seorang ustad yang menjadi instruktur PPTQ Safinda di Banyuwangi. Sebelumnya, kelompok itu kerap mengadakan pengajian sembari berwisata ke pantai atau pegunungan.

 

PPTQ Safinda merupakan cabang Pondok Pesantren Safinatul Huda di Surabaya. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka mengembangkan program pengajian dan pelatihan baca tulis Alquran serta terjemahannya. Sekitar 90 persen kota/kabupaten di Jawa Timur sudah memiliki cabang PPTQ Safinda. Bahkan, beberapa di antaranya telah memiliki pondok pesantren.

 

”Kalau di Jember, ada sekitar 500 jamaah kami. Mereka terbagi dalam 50 kelompok,” tutur Abdullah Syafiq, salah seorang ustad yang menjadi instruktur di PPTQ Safinda di Jember.

 

Tidak ada kriteria khusus dalam pembentukan kelompok atau kelas di Safinda. Saat ada sekitar 15 orang yang ingin membentuk kelas tersendiri, mereka bisa menghubungi pengurus di tiap kota. Lalu, pengajian membaca dan menerjemahkan Alquran diadakan.

 

Di Jember, PPTQ Safinda mendirikan pondok pesantren di kawasan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, sejak dua tahun lalu. Pondok itu merupakan hasil wakaf salah seorang warga.

 

Kegiatan Ngaret atau ngaji di kereta PPTQ Safinda Banyuwangi sekaligus bertujuan mengunjungi rekan-rekan mereka di Jember. Di antara sekitar 1.000 jamaah di Banyuwangi, ada sekitar 160 orang yang mengikuti kegiatan tersebut pada Minggu (8/1).

 

”Awalnya, kami mau pesan satu gerbong saja. Tapi, ternyata yang ikut melebihi hingga satu setengah gerbong,” lanjut Ahmad Zakaria.

 

Dengan menggunakan kereta Pandanwangi, para jamaah berangkat dari Banyuwangi sekitar pukul 10.00. Para anggota kemudian dibagikan masing-masing satu juz untuk diselesaikan (khatam) sepanjang perjalanan kereta. Setelah selesai, acara di dalam kereta dilanjutkan dengan pengajian interaktif dan kuis. ”Biasanya baru nyampe Kalibaru (perbatasan Banyuwangi dan Jember, Red), jamaah sudah khatam. Pengajian dan kuis cukup menyenangkan,” tambah Zakaria.

 

Misi pengajian di Safinda, menurut Zakaria, adalah mendekatkan masyarakat dengan Alquran. Karena itu, para jamaah berasal dari berbagai latar belakang usia, profesi, dan ormas. Mereka mengembangkan metode untuk orang dewasa yang belum bisa membaca Alquran agar lebih cepat menguasai. Selain itu, bagi yang sudah mampu membaca, mereka diajak memahami arti Alquran. ”Misi kami adalah membaca Alquran bisa seperti baca koran,” ujar ustad kelahiran 3 Juni 1986 tersebut.

 

Dengan menyasar masyarakat secara luas, kegiatan di Safinda diisi dengan konsultasi atau tanya jawab masalah fiqh di kalangan jamaah. Selain beragam latar belakang profesi, anggota kelompok itu terdiri atas berbagai macam ormas. Mulai NU, Muhammadiyah, Persis, hingga Al-Irsyad. Keragaman tersebut mendorong kajian fiqh dilakukan secara terbuka.

 

”Ketika ada jamaah yang bertanya pertanyaan fiqh, kami berikan berbagai macam alternatif pendapat fiqh. Jadi, jamaah bisa lebih leluasa memilih dan dewasa dalam beragama,” ujar alumnus Pondok Pesantren Langitan, Tuban, itu.

 

Setelah sampai di Stasiun Jember, para jamaah PPTQ Safinda Banyuwangi langsung bertolak ke Masjid Jamik Baitul Amien, Jember, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari stasiun. Di sana, mereka disambut pengurus PPTQ Safinda Jember yang dipimpin ustad Abdullah Syafiq.

 

”Kami berencana melakukan kunjungan balasan ke Banyuwangi. Mungkin, satu atau dua bulan ke depan,” tutur alumnus Fakultas Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya pada 2011 tersebut.

 

Setelah mengikuti ceramah interaktif dan salawat, mereka bertolak ke Banyuwangi dengan kereta api pada sore. Beberapa jamaah mengaku sangat senang mengikuti pengajian kreatif itu. Bahkan, ada beberapa jamaah yang merasa jarak Banyuwangi–Jember terlalu dekat. Ke depan, mereka meminta ada perjalanan yang lebih jauh lagi dari Banyuwangi.

 

”Alhamdulillah, banyak pencerahan dari kegiatan ini. Sudah tiga tahun ikut pengajian di Safinda,” tutur Erna Laili, 42, ibu rumah tangga asal Muncar, Banyuwangi, yang ditemui Jawa Pos Radar Jember di Masjid Jami Baitul Amien, Jember. (mg/hdi/c21/ano/JPG)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%